Mangkok merah merupakan media persatuan
Suku Dayak. Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan
mereka dalam bahaya besar. “Panglima” atau sering suku Dayak sebut
Pangkalima biasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa
mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat
sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa
panglima Dayak itu. Orangnya biasa-biasa saja, hanya saja ia mempunyai
kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu
mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata
tajam dan sebagainya.
Tradisi
mangkuk merah dilaksanakan jika kedaulatan kelompok terancam atau berada
dalam keadaan bahaya besar. Panglima suku biasanya memberikan isyarat siaga
perang dengan cara mengeluarkan mangkuk merah. Mangkuk ini terbuat dari
tanah liat dan berisi arang, daun juang, bulu ayam dan darah babi, diedarkan
dari kampung ke kampung dengan kecepatan yang mengagumkan.
Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. panglima yang dipercaya mempunyai kekuatan supranatural luar biasa - seperti bisa terbang, kebal peluru, kebal senjata tajam - memimpin upacara adat. Maksudnya, mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk berperang, sekaligus meminta restu dari roh para leluhur. Roh leluhur diyakini akan merasuk kedalam tubuh si panglima. Jika si panglima ber-tariu (menyatakan perang), khalayak yang mendengarnya akan mempunyai kekuatan lebih seperti dia. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.
Mereka
yang sudah dirasuki roh leluhur akan menjadi manusia dan bukan sehingga mampu melakukan hal-hal yang luar biasa
sampai berani memakan darah dan hati korban yang dibunuh. Kepala korban
dikuliti dan disimpan untuk keperluan upacara adat. Dengan berbuat begitu,
dipercaya akan menambah kekuatan magis pada diri yang menjalaninya. Hal
yang seperti ini hanya muncul dalam suasana perang. Isi mangkuk merah memiliki
arti tersendiri. Arang yang terdapat dalam mangkuk itu merupakan perlambang
dari atau isyarat tentang keadaan darurat perang. Daun juang menandakan,
biarpun malam, hujan, menyeberangi sungai, melewati gunung dan rintangan
apapun, mangkuk merah ini harus diedarkan terus dari kampung ke kampung.
Bulu ayam berarti, mangkuk merah harus disampaikan secepat mungkin.
Mangkok merah terbuat dari teras bambu
(ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk
bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga
perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang
melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras
kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk
suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun
rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari
kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam
mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.
Adapun,
si pembawa mangkuk biasanya ditunjuk langsung oleh panglima. Mangkuk merah
ini menjadi sarana mobilisasi massa yang sangat efektif dan cepat. Kabarnya
dalam 1-2 hari mangkuk tadi bisa beredar sampai radius 200-300 km. Menurut
cerita para tetua Dayak, mangkuk merah beredar pertama kali ketika perang
melawan penjajahan Jepang dulu. Pernah juga mangkuk merah keluar di tahun
1967, saat terjadi bentrokan antara suku Dayak dengan warga keturunan Cina.
Setelah itu, tak pernah terdengar lagi mangkuk keramat itu beredar. Dalam
kejadian 30 Desember 1996 atau (konflik tahap I) di Sanggau Ledo, warga
Dayak menuntut janji etnis Madura, seperti yang dimonumenkan di Salamantan
tahun 1979, bahwa mereka tidak akan mengganggu orang Dayak lagi. Karena
merasa terancam, perjanjian dan adat dilecehkan serta tidak mampu melawan,
mangkuk merahpun beredar.
Menurut cerita turun-temurun mangkok
merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi
lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada
tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang
antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu
Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.
Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang
dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek
kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak
tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang
sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan
dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” (
Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci,
gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga
disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).
Terimakasih Semoga Bermanfaat.....................



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !