Tulisan ini dibuat berawal dari hobi saya membaca. Keisengan saya mengotak atik mesin pencarian google sampai lah saya bertemu dengan artikel yang menurut saya menarik untuk diikuti.
Sebelumya saya minta maaf karena saya tidak bisa menampilkan sumber karena saya tidak tahu pasti sumber mana yang pertama kali pempublikasikan artikel tersebut.
Berikut ini adalah kutipan dari artikel tersebut :
Aku tidak terlalu suka membaca Alkitab dan Alquran, tapi kalau kau
bisa menunjukkan padaku kitab agama mana yang menerangkan asal-muasal
Tuhan, katakanlah, supaya aku menjadi tahu.” Kawanku membalas: “Kau
mungkin kafir. Jangan bikin pertanyaan menyesatkan.”
Ini dua pertanyaan
tua, bisakah kau menjawabnya?
Dalam semua agama, Tuhan diyakini
sebagai Yang Maha Kuasa. Kekuasaan Tuhan tak terbatas. Dia tahu apa yang
tidak diketahui manusia; Dia melihat apa yang tidak dilihat manusia;
Dia mampu mengerjakan apa yang tidak mampu diperbuat manusia. Dia
disebut Yang Maha Kuasa.
Tapi tidak sedikit orang sejak dahulu
yang senantiasa “protes” dan mencari tahu apakah memang benar Tuhan itu
ada dan maha-kuasa. Dari sekian banyak “gugatan” terhadap keberadaan
Tuhan yang pernah kudengar, ada dua pertanyaan yang kusukai. Aku suka
kedua pertanyaan ini karena aku belum bisa menjawabnya hingga hari ini.
1. Dari mana asal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada?
Kalau ditanya mana duluan telur atau ayam, kujawab ayam, karena memang Tuhan pada mulanya menciptakan ayam, bukan telur. Kalau ditanya siapa yang menciptakan manusia, matahari, udara, api, air, tanah, dan semua planet, pasti kujawab Tuhan.
Kalau ditanya dari mana asal-muasal Tuhan, apakah Dia tiba-tiba ada, pernah kujawab pada seorang kawan: Aku tidak tahu.
Lalu
dia berkata: Apakah agama yang dulu kaupeluk [Kristen] dan yang
sekarang [Islam] tidak menjelaskan secara pasti siapa yang menciptakan
Tuhan dan dari mana Dia berasal?
Kujawab: Aku tidak terlalu suka
membaca Alkitab dan Alquran, tapi kalau kau bisa menunjukkan padaku
kitab agama mana yang menerangkan asal-muasal Tuhan, katakanlah, supaya
aku menjadi tahu.
Ternyata temanku itu tidak bisa menunjukkannya.
2. Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
Kalau
dijawab Tuhan mampu menciptakan benda yang sangat berat yang Dia
sendiri tidak sanggup mengangkatnya, berarti Tuhan tidak maha-kuasa —
mengapa Dia tidak cukup kuat mengangkat benda itu.
Kalau dijawab
Tuhan tidak mampu menciptakan benda berat tersebut, berarti Tuhan pun
tidak maha-kuasa — mengapa Dia tidak bisa menciptakan benda terberat di
dunia.
Aku sudah beberapa kali mengajukan kedua pertanyaan ini
kepada kawan-kawanku, dan umumnya mereka tidak bisa menjawab. Beberapa
kawan berkata: Itu rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu, kau jangan
bikin pertanyaan menyesatkan, mungkin benar kau termasuk kafir, mungkin
kau ateis, ketahuilah bahwa manusia tidak sanggup melihat Tuhan,
sepintar-pintar manusia takkan tahu siapa sesungguhnya Tuhan dan di mana
tempat untuk menemukan-Nya.
Satu-dua kawanku yang mengaku mampu
menjawab, berkata, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah “Tuhan tidak
diciptakan oleh siapapun, pokoknya Tuhan adalah yang pertama dan
terakhir,” sementara jawaban kedua ialah “Tuhan mampu menciptakan
apapun, pokoknya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, titik.”
Setelah membaca artikel tersebut saya langsung ingat pada sebuah novel yang diberikan teman saya beberapa waktu yang lalu
Novel tersebut berjudul “Cogito Allah Sum!” karya Lalu Mohammad
Zaenudin. Buku yang lumayan bagus bagi para pencari Tuhan, didalamnya
banyak terdapat perenungan-perenungan tentang seseorang yang berusaha
menemukan ke exist-an Allah. Saya akan menceritakan kembali kepada teman-teman yang telah saya pahami dan mengerti dari buku ini.
Begini ringkasan serta inti dari novel tersebut
Apakah Tuhan itu ada?
Apakah agama itu
hanya sebuah mitos? muncul dari budaya manusia dan berkembang dari
waktu ke waktu? Pada awal kehidupan manusia, sekitar 10.000 SM pada
awal mencairnya zaman es, tanda-tanda kehidupan manusia mulai muncul.
Seperti yang dikemukakan oleh teori evolusi Charles Darwin bahwa nenek
moyang manusia dulunya adalah sebangsa primata/kera. Dimulai dari zaman
paleolitikum, pada awalnya wujud manusia sama dengan kera, hal ini
dapat dibuktikan dengan berbagai penemuan fosil-fosil manusia purba
seperti pithecanthropus erectus.
Jadi berarti nenek moyang
manusia dalam agama-agama ibrani yaitu Adam adalah kera? yah disinilah
titik pertentangan antara irasional agama dengan rasionalitas ilmu
pengetahuan.
Manusia pada
pertama kali belum tahu apa itu makhluk halus semacam jin, setan,
hantu, dll. karena mereka hidup hanya untuk berburu dan meramu, jadi
buat apalah mereka memikirkan hal seperti itu, yang mereka pikirkan
kala itu hanyalah bagaimana mengatasi perut dan bertahan hidup. Mereka yang lapar dengan
berburu di alam liar kemudian pada periode nomaden atau
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka mulai
menemukan ada kekuatan lain yang jauh lebih besar dari mereka, yaitu
kekuatan alam, cuaca, adanya binatang buas, serta kejanggalan dan
kengerian yang terdapat di alam, hal-hal tersebut membuat mereka
menginginkan sebuah perlindungan dari segala ancaman dan bahaya
tersebut. Saat itulah nenek moyang kita memanipulasi makhluk dan
kekuatan supranatural atau kekuatan alam. Akhirnya munculah kepercayaan
animisme. Jadi motivasi awal adalah untuk dapat menaklukan alam ini,
bukan takut kepada surga ataupun neraka. Hal ini merupakan pemikiran
dari ahli sejarah dan pemikir bernama E. B. Taylor (atheis?)
Selanjutnya orang-orang prasejarah mulai percaya tentang adanya ruh-ruh yang dimiliki oleh setiap benda, seperti pohon, batu, dll. Bahkan sampai saat ini kita masih bisa melihat upacara-upacara yang mengkeramatkan pohon angker dan tua. Mereka menyembah apa saja, jadi yang disembah ada banyak, pikiran tersebut melahirkan aliran Dinamisme dalam kepercayaan, yaitu menyembah berbagai roh/ dewa-dewi. Agar merek bisa memanggil kekuatan tersebut untuk dimintai pertolongan, maka mereka melakukan upacara atau ritual seperti menari, bernyanyi, bertapa, berdoa, dll. Hal tersebut dinamakan religion in action (agama sebagai perbuatan) oleh Wallace.
Selanjutnya orang-orang prasejarah mulai percaya tentang adanya ruh-ruh yang dimiliki oleh setiap benda, seperti pohon, batu, dll. Bahkan sampai saat ini kita masih bisa melihat upacara-upacara yang mengkeramatkan pohon angker dan tua. Mereka menyembah apa saja, jadi yang disembah ada banyak, pikiran tersebut melahirkan aliran Dinamisme dalam kepercayaan, yaitu menyembah berbagai roh/ dewa-dewi. Agar merek bisa memanggil kekuatan tersebut untuk dimintai pertolongan, maka mereka melakukan upacara atau ritual seperti menari, bernyanyi, bertapa, berdoa, dll. Hal tersebut dinamakan religion in action (agama sebagai perbuatan) oleh Wallace.
Pada pergeseran
masa dan perubahan zaman, manusia mulai menyadari bahwa
kekuatan-kekuatan tersebut ternyata sifatnya bervariasi, ada yang kuat,
ada yang lemah, ada yang biasa-biasa saja. Ada berbagai elemen dan
ternyata masing-masing elemen tersebut mempunyai kelebihan dan
kekurangannya seperti air, api, tanah, listrik, cahaya, dll. Nah akibat
dari bervariasinya kekuatan tersebut manusia mulai bingung, ada
kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatan itu sendiri, hal ini
dinamakan ‘there is god above god’.
Lalu berdasarkan kenyataan
tersebut mereka pun akhirnya sepakat bahwa tuhan-tuhan tersebut
mempunyai satu tuhan raja yang paling berkuasa dan menjadi atasan
tuhan-tuhan kecil tersebut. Akhirnya dari menyembah banyak tuhan
akhirnya mereka hanya menyembah tuhan yang paling tinggi saja. daripada
repot mengurus tuhan banyak-banyak.
Hal diatas merupakan pendapat para atheis
yang menyatakan tuhan itu tidak ada. Dari kesimpulan uraian diatas
berarti bahwa segala macam agama yang ada didunia ini tak lain hanya
berasal dari anggapan-anggapan atau pemikiran manusia saja. Tentu saja
saya tidak setuju dengan anggapan diatas, ya memang benar agama
berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan budaya manusia. Namun
seiring berkembangnya kebutuhan manusia dan majunya pemikiran manusia,
manusia semakin menemukan kejanggalan dan keajaiban yang amat sangat
yang tidak mampu dipikirkan oleh logika, maka berangsur-angsur Tuhan
sedikit demi sedikit mulai menampakkan sosoknya serta keagungannya untuk
menuntun umat manusia.
Apakah Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Kuasa?
Ada dua buah
pertanyaan didalam novel tersebut yang ditanyakan oleh seorang tokoh
atheis yang meragukan sifat-sifat Tuhan, yang pertama adalah
“Dapatkah Tuhan
menciptakan sebuah perisai yang amat sangat kuat sehingga tidak ada
satu pedang-pun yang dapat menembusnya, kemudian dapatkah Tuhan
menciptakan sebilah pedang yang sangat tajam sehingga dapat menembus
perisai yang amat tangguh sekalipun?”
Mari kita
hayati sejenak pertanyaan tersebut.
Pertanyaan tersebut sangatlah
menjebak, tuhan pasti bisa membuat kedua-duanya, namun pastilah ada
satu yang kalah, dan itu artinya Tuhan bukanlah sang Maha Pencipta
karena gagal membuat perisai atau pedang yang paling kuat. setidaknya
itu yang dimaksud oleh pertanyaan tersebut. Sudah jelas-kah bagi
kalian? dapatkah kalian menjawabnya? Mari kita jawab bersama.
Jawaban dari
pertanyaan pertama diatas sebenarnya mirip dengan permainan angka, kita
tahu bahwa pedang dan perisai memiliki fungsi kekuatan yang berbeda.
Pedang untuk menyerang sedangkan perisai untuk bertahan, masing-masing
mempunyai puncak kekuatannya.Andaikan saja kekuatan pedang itu 5 poin,
lalu kekuatan perisai itu juga 5 poin. Namun karena fungsinya juga
berbeda, pedang untuk menyerang sedangkan perisai untuk bertahan, maka
kita bedakan juga jenis angkanya, yaitu pedang 5 poin, sedangkan
perisai ‘-5 poin’ . Jika saat kedua benda tersebut di adu kekuatan
masing-masing, maka terjadilah operasi ‘bentrok’ dalam logika
matematika, dan fungsi tersebut menjadi +5 + (-5) = 0. Nah nilai “nol”
menunjukan ketiadaan benda dan ketiadaan hasil atau berarti tidak
membuat apa-apa, maka hasilnya pun tidak ada. Dan kesimpulannya adalah,
Kedua benda tersebut memang kuat, tapi sama-sama kuat sedangkan
fungsinya-pun berbeda antara menyerang dan bertahan.
Kemudian kita beralih ke pertanyaan kedua, yang juga sama menjebaknya,
” Dapatkah Tuhan menciptakan makhluk yang lebih kuat daripada-Nya?”
Dalami dan selami
pertanyaan tersebut. Jika Tuhan tidak dapat menciptakan makhluk yang
lebih kuat dari-Nya, maka tuhan bukanlah sang Maha Pencipta dan
bukanlah Maha Kuasa, karena ada makhluk yang lebih kuat dari-Nya.
setidaknya itulah yang akan menjadi jebakan pertanyaan tersebut. Mari
kita jawab bersama.
Pertanyaan tersebut sebenarnya belum / tidak tepat. Orang yang bertanya demikian harus mengerti dan sepakat arti dari kata ‘maha’ itu sendiri. dalam terminologi bahasa, makna ‘maha’ itu sama dengan ‘tak terhingga’, sedangkan ‘tak terhingga’ itu merupakan notasi dari angka ‘yang paling besar’. Jadi sejatinya tidak ada yang lebih besar dari yang paling besar. Nah jika kesepakatan tersebut tercapai, maka pertanyaan tersebut akan mudah untuk dijawab. Adakah nilai yang lebih besar dari ‘tak terhingga’ ataupun ‘tak terbatas’? Tentunya tidak ada bukan? karena tak terhingga merupakan puncak dari sesuatu yang hingga atau mungkin untuk dilakukan. Jadi sangat tidak rasional untuk sebuah pertanyaan jebakan seperti itu. Pertanyaan tersebut lebih tepat untuk sebuah ‘maha’ yang terbatas sehingga masih bisa ada yang lebih tinggi darinya. Namun Tuhan kita adalah ‘maha’ tak terbatas, tak akan ada yang melebihi-Nya, menyaingi-Nya, maupun hanya sekedar menyamai-Nya.
Pertanyaan tersebut sebenarnya belum / tidak tepat. Orang yang bertanya demikian harus mengerti dan sepakat arti dari kata ‘maha’ itu sendiri. dalam terminologi bahasa, makna ‘maha’ itu sama dengan ‘tak terhingga’, sedangkan ‘tak terhingga’ itu merupakan notasi dari angka ‘yang paling besar’. Jadi sejatinya tidak ada yang lebih besar dari yang paling besar. Nah jika kesepakatan tersebut tercapai, maka pertanyaan tersebut akan mudah untuk dijawab. Adakah nilai yang lebih besar dari ‘tak terhingga’ ataupun ‘tak terbatas’? Tentunya tidak ada bukan? karena tak terhingga merupakan puncak dari sesuatu yang hingga atau mungkin untuk dilakukan. Jadi sangat tidak rasional untuk sebuah pertanyaan jebakan seperti itu. Pertanyaan tersebut lebih tepat untuk sebuah ‘maha’ yang terbatas sehingga masih bisa ada yang lebih tinggi darinya. Namun Tuhan kita adalah ‘maha’ tak terbatas, tak akan ada yang melebihi-Nya, menyaingi-Nya, maupun hanya sekedar menyamai-Nya.
Demikianlah,
semoga dapat kita renungkan dan dapat menjadi amalan bagi kita untuk
memperkuat dan mempertebal iman kita dari serangan-serangan pertanyaan
para kaum tak beragama yang berusaha menyesatkan kita. Amin.
Nah begitulah kurang lebihnya isi kandungan dari novel tersebut...
sebelumya saya berterimakasih sekali dengan adanya artikel tersebut semoga dapat menambah wawasan serta memperkaya keimanan saya kepada tuhan.
Setelah mentelaah pesan dan hikmah dari tulisan tersebut saya dapat menarik satu kesimpulan dari isi kandungan buku tersebut....
Ini dari sudut pandang saya, seorang manusia biasa yang coba menganalisa serta menjawab pertanyaan pertanyaan konyol kaum ateis tersebut melalui keterbatasan.
Sejak kapan Tuhan itu ada ????
Sejak kapan Tuhan itu ada ????
Sebenarnya
pertanyaan tersebut sudah muncul pertama kali dalam pikiran orang yang
percaya adanya Tuhan, hanya saja ketika orang yang percaya itu sudah
menemukan jawabanya, para kaum ateis baru menemukan pertanyaannya jauh
sesudah kaum teis menemukan jawaban sesungguhnya.
Dalam
paradoks eksetensi Tuhan dikaum ateis ini adalah tingkatan dasar untuk
menjebak kaum beragama dalam kebenaran adanya Tuhan mari kita analisa:
Pertanyaan tentang ini keliru. Pertanyaan tentang “Kapan” adalah
pertanyaan yang menunjuk pada dimensi waktu yang hanya dimiliki oleh
materi. Waktu dibutuhkan oleh materi untuk bergerak, untuk dinamis.
Salah satu ciri materi adalah gerak. Dari mulai tidak ada, atau ada
dalam bentuk lain, lalu berproses menjadi ada atau berubah bentuk.
Sementara Tuhan bukan materi. Ia non-materi. Jika Tuhan tersusun dari waktu berarti mengindikasikan bahwa Tuhan memiliki gerak. Dari mulai ada kemudian berproses lalu menjadi ada. Ini sangat tidak mungkin. Karena berarti ada waktu di mana ada kekosongan Tuhan, lalu Tuhan berproses dan menjadi ada.
Perlu kita ketahui Tuhan takkan bisa terjamah oleh logika manusia super sekalipun bahkan nabi atau utusanya takkan bisa menganalisa eksistensi serta ilmu Tuhan.
Perlu juga diingat kembali Tuhan tak pernah tersentuh oleh ruang dan waktu seperti layaknya manusia yang terikat oleh sebuah dimensi dimana memiliki keterbatasan.
Sementara Tuhan bukan materi. Ia non-materi. Jika Tuhan tersusun dari waktu berarti mengindikasikan bahwa Tuhan memiliki gerak. Dari mulai ada kemudian berproses lalu menjadi ada. Ini sangat tidak mungkin. Karena berarti ada waktu di mana ada kekosongan Tuhan, lalu Tuhan berproses dan menjadi ada.
Perlu kita ketahui Tuhan takkan bisa terjamah oleh logika manusia super sekalipun bahkan nabi atau utusanya takkan bisa menganalisa eksistensi serta ilmu Tuhan.
Perlu juga diingat kembali Tuhan tak pernah tersentuh oleh ruang dan waktu seperti layaknya manusia yang terikat oleh sebuah dimensi dimana memiliki keterbatasan.
2. Mampukah Tuhan menciptakan sebuah benda yang sangat berat yang Dia sendiri tidak sanggup mengangkatnya?
Ketika kita menanyakan masalah yang pada intinya : Dapatkah Tuhan Yang
Maha Kuasa menciptakan sesuatu yang melenyapkan KeMahaKuasaan itu? Pada
intinya ada masalah logika berbahasa yang serius di sini.
Karena ada
kontradiksi. Masalah yang terjadi bukan ada pada Tuhan tetapi pada
kontradiksi pertanyaan itu. Pada konsep ilmu pengetahuan manusianya. Kalau
masalahnya ada pada logika dalam berbahasa - maka wajar saja jika
penyelesaiannya juga dikaitkan dengan bahasa.
Memang ada variasi jawaban lain di sini. Misalnya saja : Ada logika seperti ini : Tuhan itu Maha Kuasa, karena Maha Kuasa, Tuhan juga bisa menanggalkan keMahaKuasaannya suatu waktu sehingga Dia menjadi tidak Maha Kuasa.
Tuhan Maha Kuasa, Dia membuat batu. Kemudian Dia menanggalkan KeMahaKuasaan itu sehingga tidak bisa mengangkat batu itu.
Kemudian muncul bantahan : Tuhan yang sudah menjadi tidak Maha Kuasa, selamanya tidak akan menjadi menjadi Maha Kuasa karena sudah kehilangan keMahaKuasaannya.
Atau pernyataan lain : Bagaimana Tuhan yang tidak bisa
mengangkat sebuah batu bisa kita sebut Maha Kuasa ? Masalahnya sekali
lagi terletak pada kontradiksi
itu. Kontradiksi yang dilihat pada ruang dan waktu yang sama adalah tidak mungkin terjadi.
Jika kita bicara hukum alam - menurut prinsip-prinsip logika manusia, - apa yang saya sebut sebagai jendela adalah prinsip-prinsip logika manusia tersebut.
Apa yang kita sebut sebagai hukum alam, sebenarnya sekedar batas pandang jendela yang kita sudah tahu. Ketika kita bicara hukum alam, akhirnya yang kita bicarakan adalah hukum alam yang terpahami oleh manusia. Hanya hukum alam yang terpahami. Hukum alam di mana kontradiksi dalam ruang dan waktu yang sama adalah tidak mungkin terjadi.
Jadi ketika ada pertanyaan : Dapatkah Tuhan menciptakan batu yang Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya?
itu. Kontradiksi yang dilihat pada ruang dan waktu yang sama adalah tidak mungkin terjadi.
Jika kita bicara hukum alam - menurut prinsip-prinsip logika manusia, - apa yang saya sebut sebagai jendela adalah prinsip-prinsip logika manusia tersebut.
Apa yang kita sebut sebagai hukum alam, sebenarnya sekedar batas pandang jendela yang kita sudah tahu. Ketika kita bicara hukum alam, akhirnya yang kita bicarakan adalah hukum alam yang terpahami oleh manusia. Hanya hukum alam yang terpahami. Hukum alam di mana kontradiksi dalam ruang dan waktu yang sama adalah tidak mungkin terjadi.
Jadi ketika ada pertanyaan : Dapatkah Tuhan menciptakan batu yang Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya?
Pertama Masalahnya ada pada kontradiksi itu. Dalam logika manusia adanya kontradiksi semacam itu tidak terpahami - sehingga pertanyaan manusia terkait dengan ini menjadi tidak terpahami pula.
Sekali lagi : Ini adalah contoh
keterbatasan konsep ilmu pengetahuan. Masalahnya bukan pada Tuhan.
Tetapi pada keterbatasan logika manusia.
Sekali lagi keterbatasan itu tidak selalu berarti kurang pengetahuan tetapi lebih dalam lagi karena secara konseptual ilmu pengetahuan itu sendiri selalu memiliki keterbatasan.
Jadi adanya batasan-batasan ini tidak selalu berada pada keterbatasan pemikiran orang per orang tetapi justru ada karena ilmu pengetahuan itu sendiri termasuk ilmu bahasa secara mendasar - memang memiliki keterbatasan.
Sekali lagi keterbatasan itu tidak selalu berarti kurang pengetahuan tetapi lebih dalam lagi karena secara konseptual ilmu pengetahuan itu sendiri selalu memiliki keterbatasan.
Jadi adanya batasan-batasan ini tidak selalu berada pada keterbatasan pemikiran orang per orang tetapi justru ada karena ilmu pengetahuan itu sendiri termasuk ilmu bahasa secara mendasar - memang memiliki keterbatasan.
Kedua dalam segi tatanan bahasa bagaimana mungkin kita dapat mengukur sesuatu yang kontradiktif dalam satu waktu yang bersamaan...Apakah orang yang meninggal itu baru saja mengendarai mobil ???? dalam segi hukum maupun bahasa ini sangat salah...
Pertanyaannya
salah dan tidak memerlukan jawaban karena tidak logis dan mengandung kontradiksi. Pertanyaan
bermasalah secara logika maka dengan sendirinya pertanyaan itu tidak
bisa dijawab.
Karena tidak logis maka pertanyaan ini tidak masuk akal dan tidak bisa diselesaikan, menurut logika manusia. Tidak perduli pertanyaan tersebut anda sematkan untuk Tuhan, untuk setan atau untuk manusia. Pertanyaan tersebut selalu tetap tidak logis – jika ditinjau dari segi keterbatasan pemahaman logika manusia.
Karena tidak logis maka pertanyaan ini tidak masuk akal dan tidak bisa diselesaikan, menurut logika manusia. Tidak perduli pertanyaan tersebut anda sematkan untuk Tuhan, untuk setan atau untuk manusia. Pertanyaan tersebut selalu tetap tidak logis – jika ditinjau dari segi keterbatasan pemahaman logika manusia.
Masalahnya bukan kepada siapa pertanyaan itu disematkan. Tetapi sebuah pertanyaan yang salah diarahkan untuk apapun tetap saja hasilnya salah, karena pertanyaan itu sudah salah secara mendasar.
Saya tidak bermaksud menggurui atau pun menjadi bijak dalam menganalisa..apapun hasil tulisan ini hanyalah bentuk luapan dalam ketebatasan saya.
Dan tak lupa saya mengutip ayat-ayat alquran yang berkenaan dengan hal ini....
Dan tak lupa saya mengutip ayat-ayat alquran yang berkenaan dengan hal ini....
Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hajj [22]: 74)
…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-’Araaf [7]: 54)
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami
menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka
jadilah ia. (QS. An-Nahl [16]: 40)
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS. Yaasiin [36]: 82)
Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan
sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Al-Mu’min [40]: 68)
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia
telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”,
maka jadilah ia. (QS. Maryam [19]: 35)
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk
menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:
“Jadilah!” Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah [2]: 117).



Surah Al Ikhlash
BalasHapus( Memurnikan Keesaan Allah )
Surah Ke 112 : 4 Ayat
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Bismillahirrahmaanirrahiim(i)
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
Qul Huwallahu Ahad(un)
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa."
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
Allahu sh-shamad(u)
2. "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."
لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ
Lam yalid walam yuulad
3. "Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,"
وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ
Wa lam Yakun Lahu kufuwan ahad(u)
4. "dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Masalah Terselesaikan !!
Saya seorang muslim, jika saya diberi pertanyaan seperti itu saya akan menjadikan ilmu tentang sifat Allah sebagai dasar jawabannya, yaitu secara umum kami sebagai muslim ketahui bahwa Allah bukanlah maha segalanya, Allah mempunyai 99 Sifat Wajib & Allah juga memiliki 20 Sifat Mustahil..
BalasHapusjadi jawaban saya adalah:
"Allah pasti bisa menciptakan apapun, sebesar atau seberat apapun, dan tetapi mustahil bagi Allah tidak berkuasa atas segala ciptaanNya...
Semoga jawaban saya bisa bermanfaat, terima kasih..